Renungkanlah (1)


وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,
Qs. Asy Syu’ara’ : 80

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَى مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَه ُُ وَثُلُثَه ُُ وَطَائِفَة ٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوه ُُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَى وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضا ً حَسَنا ً وَمَا تُقَدِّمُوا لِأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْر ٍ تَجِدُوه ُُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرا ً وَأَعْظَمَ أَجْرا ً وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُور ٌ رَحِيم ٌ

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Qs. Al Muzzammil : 20)

وَعَسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئا ً وَهُوَ خَيْر ٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئا ً وَهُوَ شَرّ ٌ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“….Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(Qs. AL Baqarah : 216)
Read More

Renungkanlah (2)


Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lainnya, kecuali ditetapkannya untuknya satu derajat dan dihapuskan untuknya satu kesalahan.
(HR. Muslim)

Tidaklah seorang muslim tertimpa derita atau perkara lain, kecuali Allah hapuskan dengannya kejelekan-kejelekan (dosa-dosanya)sebagaimana pohon menggugurkan daunnya.
(HR. Muslim)

Jika seorang hamba sakit atau sedang melakukan perjalanan, maka dituliskan baginya pahala sebagaimana ia melakukan amalan ketika ia tidak sedang bepergian atau sehat
(HR. Bukhari)

“Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”
(HR Muslim)
Read More

Muhasabah


Terbujur di pembaringan, tiada daya dalam dekapan
Penuhi dan menikmati karunia dari ilahi tentang arti kesehatan hakiki
Tiada guna penyesalan
Tuai ibroh dari kejadian
Hanyalah kelalaian yang akan menyesatkan
Kala perbaikan harus dilakukan
Allah..., tiada daya dan kekuatan hanyalah diri-Mu yang kuasa
Allah sucikan daku dari dosaku atas keampunan-Mu
Sejenak kuberbalik pandang
Seuntai ghaflah dan kesombangan

Allah, ampuni daku dengan rahmad-Mu yang luas membentang tak berliku
Allah, sabarkan daku dengan kasih-Mu
Karena kuyakin tak akan sabar
Dalam menghadapi siksa-Mu
Allah kuatkan daku, dalam ujian-Mu sebagai bias iman di dadaku
Allah sabarkan daku, didalam sakitku...
Allah sabarkan daku, didalam sakitku...
Allah sabarkan daku, didalam sakitku...

(Muhasabah; Suara Persaudaraan)



Muhasabah Cinta Wahai pemilik nyawaku,
Betapa lemah diriku ini,
Berat ujian dari-Mu
Kupasrahkan semua, pada-Mu..

Tuhan,
Baru kusadar,
Indah nikmat sehat itu…
Tak pandai aku bersyukur
Kini kuharapkan cinta-Mu

Kata-kata cinta terucap indah
Mengalir berdzikir di kidung do’aku
Sakit yg kurasa biar jadi penawar dosaku
Butir cinta air mataku teringat semua yang Kau beri untukku ampuni khilaf dan salah
selama ini ya ilahi…muhasabah cintaku….

Tuhan, kuatkan aku, lindungiku dari putus asa
Jika kuharus mati
Pertemukan aku dengan-Mu

Kata-kata cinta terucap indah,
Mengalir berdzikir di kidung do’aku,,
Sakit yg kurasa biar jadi penawar dosaku
Butir2 cinta air mataku, teringat semua yang kau beri untukku,
Ampuni khilaf dan salah,
Selama ini ya ilahi…
Muhasabah cintaku…

(muhasabah Cinta, Edcoustic)
Read More

Obat Amal


Dalam perenunganku, ingatanku malah beralih pada insulin, digoxin dan opioid. Insulin, obat yang dikonsumsi terus menerus dan pemakainya akan sangat bergantung pada obat ini. Digoxin, obat yang mempunyai loading dose, dosis di awalnya besar lalu perlahan-lahan diturunkan. Dan opioid, obat yang memiliki titer dose di mana pada awalnya dimulai dengan dosis kecil dulu baru kemudian bertambah dan terus bertambah.

Ah, semua obat itu memberikanku pelajaran bahwa beramal itu hendaklah seperti insulin yang terus menerus. Jika terputus, maka akan berakibat pada kondisi pasien. Beramal itu bukan seperti digoksin yang pada awal-awalnya banyak, lalu perlahan-lahan turun. Awalnya semangat banget, tapi ga istimror. Dan, juga mengajarkanku agar memulai suatu amalan dengan perlahan-lahan, dimulai dengan apa yang kita sanggupi dulu (kecuali untuk amalan wajib tentu saja) dan baru perlahan-lahan ditingkatkan.

Dan, segala obat ada dosisnya, ada aturan pakainya. Jika ga tau aturan pakai, maka bisa jadi obatnya jadi toksik, obatnya ga berefek atau malah menimbulkan penyakit lain. Pun begitu amalan dan ibadah, ada aturannya dan ada “dosis”nya jugah. Jika ga tau aturannya, bisa jadi malah bukan jadi amalan ibadah. Bisa jadi bid’ah. Maka, penting sangat untuk mengetahui ilmunya sebelum amalnya.

Semoga ini semua menjadi pelajaran bagik terutama, juga bagimu semua.
Read More

Dekompensatio Iman


Hmm…dalam case study report kemaren, kelompokku membahas masalah dekompensatio cordis atau yang lebih akrab dikenal dengan istilah heart failure. Atau, bahasa kitanya gagal jantung.

Aaihh, betapa jantung itu memang “jantung”nya semua aktivitas tubuh kita. Karena, asupan energy, oksigen, dan zat penting bagi tubuh akan disampaikan oleh darah yang dipompakan oleh jantung. Hmmm…lebih kurang mirip pusat komunikasi dan transportasi kali yah? Jika ga ada, maka hampir seluruh aspek kehidupan jadinya lumpuh.

Betapa pentingnya jantung itu.
Aah, semua ini mengajarkanku bahwa ketika jantung sudah bermasalah, maka banyak bagian dari tubuh kita yang kemudian ikut bermasalah.

Maka, ijinkan pula aku menggunakan istilah ini untuk dekompensatio iman. Karena yang menjadi jantung dari ruhiyyah kita itu adalah keimanan kita. Jika sudah terjadi dekompensatio iman, maka pasti akan berefek juga kepada hampir seluruh sisi kehidupan kita.

Semua ini mengajarkanku untuk senantiasa menjaga iman agar tak terjadi dekompensatio sebagaimana setiap orang juga tak ingin mengalami dekompensatio kordis.

Ya, Allah…hanya Engkau yang mampu menjagaku ya Rabb…
Read More

Taujih Rabbani


يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْب ٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَاب ٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَة ٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَة ٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَة ٍ مُخَلَّقَة ٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَة ٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَل ٍ مُسَمّى ً ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلا ً ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلاَ يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْم ٍ شَيْئا ً وَتَرَى الأَرْضَ هَامِدَة ً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْج ٍ بَهِيج ٍ 

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”

“O mankind! if ye are in doubt concerning the Resurrection, then lo! We have created you from dust, then from a drop of seed, then from a clot, then from a little lump of flesh shapely and shapeless, that We may make (it) clear for you. And We cause what We will to remain in the wombs for an appointed time, and afterward We bring you forth as infants, then (give you growth) that ye attain your full strength. And among you there is he who dieth (young), and among you there is he who is brought back to the most abject time of life, so that, after knowledge, he knoweth naught. And thou (Muhammad) seest the earth barren, but when We send down water thereon, it doth thrill and swell and put forth every lovely kind (of growth).”

[Al Hajj : 5]
Read More

Balada Rumah Sakit (3)

Cerpen

“Bagaimana, Bu? Albuminnya drop sekali. Harus segera diganti.”
Suara dokter visite pagi ini membuatku tersentak. Menatap keluarga pasien yang melihat ke arah dokter dengan sendu.
“Tapi, harganya satu juta lima ratus untuk satu kantong, Bu. Satu kantong untuk satu hari pemakaian. Apa ibu sanggup?” sang dokter bertanya hati-hati, agar tak menyinggung perasaan pasien.
Seperti biasa, keluarga itu terhenyak, lalu menarik nafas dalam-dalam. Wajah-wajah itu berkabut.
“Kami tidak sanggup, Pak.”
“Hmmm….bagaimana ya? Dari gizi bagaimana? Ada antisipasi?”
“Bisa, Pak. Dengan ikan gabus rebus. Tapi, akan sangat lamban kenaikannya. Untuk porsi ini enampuluh ribu sehari.”

Fiuff…
Aku menarik nafas dalam. Ini bukan kali pertamanya aku menghadapi kondisi pasien yang seperti ini. pasien kurang mampu yang membutuhkan asupan zat yang masya Allah mahalnyaaa. Sering aku kemudian menyeka air mata di belakang rombongan visite ini.

Sungguh, aku serba salah. Di bagian ini, aku memang bertanggungjawab terhadap pengobatan pasien. Di satu sisi, pasien sangat membutuhkan obat itu dan tugaskulah mengurusi obatnya, tapi di sisi lain, pasien kurang mampu yang tak punya uang begituu. Aku tentu tak punya wewenang untuk memberikannya secara gratis. Aah…, sungguh, aku sangat dilemma. Hati ini sangat ingin membantu si pasien yang terbaring lemah. Ia membutuhkannya. Tapi ia tak sanggup membeli. Dan aku pun tak bisa menutup mata, bahwa banyak pasien yang kemudian meninggal dunia karena tak mendapatkan obat ini (Salah satu contohnya albumin ini). Aah…, sungguh, hatiku sangat ingin memberikannya karena memang tanggungjawabku. Tapi, harganyaa? Harganya bagaimana? Bahkan gaji bulananku tak cukup untuk membiayai satu kantong saja. dan yang pasti si pasien butuh lebih dari satu kantong.

Jika sudah begini, aku hanya bisa menahan pilu. Menatap keluarga-keluarga pasien yang seolah-olah telah “merelakan” saja, “biarlah, lebih baik beliau kembali saja pada-Nya.” Apalah daya. Uang tak ada. Padahal, “kehidupan” si pasien sangat tergantung pada zat itu. Pada obat itu.

Ah, sungguh miris!

Jika sudah begini, aku sungguh sangat heran, kenapa masih ada orang2 di belakang layar sana yang berani bermain2 dengan nyawa manusia!? Para mafia kesehatan! Apa persaannya sudah menyublim seluruhnya? Meski pun di rumah sakit ini yang kutahu tidak ada hal-hal seperti itu, tapi di tempat-tempat lain, itu masih saja ADA! Mereka, orang-orang itu, para mafia kesehatan yang berhati bajingan. Apa tidak mikir, bagaimana jika dia atau keluarganya yang berada di posisi itu?

Selain itu, aku hanya bisa berharap semoga kualitas kesehatan di negeri ini semakin baik dan semakin baik lagi. Agar, yang “boleh” sakit tidak orang kaya saja. agar orang miskin juga “boleh” sakit. Maksudnya, ada penyamaan pelayanan dan fasilitas yang diperoleh.
Semoga saja. sebab, hanya berharap yang bisa kulakukan.
Read More

Balada Rumah Sakit (2)

Cerpen

Aku tak habis pikir dengan pasien yang satu itu. Terakhir kulihat, keluarganya datang dengan sebuah mobil mewah yang harganya…entahlah, jikapun digadai semua jualanku, barangkali ga cukup buat beli rodanya saja. Tapiii, kenapa dia malah ditempatkan di bangsal kelas tiga saja? kenapa tidak memilih kelas utama atau VIP saja sekalian? Ah, entahlah…. Aku hanya seorang penjual makanan kecil. Buat apa aku harus tahu urusan mereka.

Hingga, suatu hari, ketika aku sedang terkantuk-kantuk menunggui jualanku di salah satu sudut di rumah sakit ini,seseorang mendekat. Menyapaku.
“Ehh, apa?” aku terkesiap.
“Maaf mengganggu, Bu.”
“Hoo..ndak apa-apa. Silakan…silakan…, mau beli apa? Risoles, bakwan, peyek, kacang, lapek nago sari?” Aku berusaha melayaninya dengan jenaka. Tapi, si pengunjung malah mematung. Pasien itu….ya pasien itu, yang duduk di atas kursi roda itu, sedang berusaha tersenyum geli ke arahku. Hmm….memangnya ada yang aneh dariku? Sementara anaknya yang mendorong kursi roda, hanya diam saja. datar, nyaris tak berekspressi.

“Bagaimana kondisinya bu? Gimana dik? Si ibu sudah baikan?” aku menoleh pada wanita muda yang mendorong kursi roda. Wanita necis yang elegan. Dari tubuhnya, tercium aroma wangi parfum mahal. Sepertinya harga parfumnya lebih mahal dari hasil penjualanku seharian.
“ini Bu, entah kenapa, ibu saya malah minta di antar ke sini.” Si wanita itu menjawab datar.
“Hoo iya? Ibu kangen saya yaaah?” aku mencoba mencandai wanita paruh baya di kursi roda. Wanita itu tersenyum.
“Bu, saya titip ibu saya sebentar ya. Saya mau ke depan.”
“Iya, Dik.”
Wanita itu berlalu dengan gaya jalannya yang juga anggun. Meninggalkan aroma wangi dari parfum berkelas.

“Saya iri padamu.” Kata si ibu di kursi roda dengan suara pelan. Tapi, setidaknya indra pendengaranku masih bisa menangkap gelombang suara itu.
“Wah….tidak salah nih Bu? Saya orang miskin begini. Untuk hidup satu hari sajaa, susaaaaah.” Aku berkata jujur. “Kalau ibu, wah enak yaah. Rumah mewah. Mobil mewah. Anak2 yang cantik. Ga ada yang peru ibu risaukan lagi.”

“Saya memang diberikan-Nya kelebihan harta. Tapi, saya tidak bisa menggunakannya. Lalu buat apa? Saya bisa membeli villa mewah, tapi saya tidak bisa menikmatinya. Saya tidak bisa tidur dengan nyaman. Saya bisa membeli makanan apapun, tapi saya tak bisa menikmatinya. Makan saya harus ditakar denagn lauk-pauk yangs ama sekali tak enak. Saya bisa saja pergi ke mana-ama dengan uang saya, tapi kaki saya sudah lumpuh begini. Semuanya mengajarkan kepada saya bahwa nikmat kesehatan itu jauh lebih berharga dari semua itu. Jauh lebih berharga dari apa yang saya punya saat ini. kekayaan? Huh.., percuma saja jika saya tak dapat menikmatinya. Dan lagi, kekayaan tak membuat saya bahagia. Justru saya iri padamu, yang bisa menikmati tawa, bisa bejalan kemana-mana meskipun kau katakana kau tak punya apa-apa. Tapi, sehat itu sungguh asset yang sangat berharga.”

Aku tercenung. Wah…benar juga!

“Jangan pernah nilai kekayaan sebanding dengan kebahagiaan. Karena kebahagiaan itu letaknya di sini, di hati ini. Berbahagialah. Syukuri apa yang ada.” Pesannya.

“Kau tahu, kenapa aku memilih kelas tiga? Bukan karena aku ga sanggup membayar VIP atau lebih dari itu. Tapi, karena aku ingin bersama mereka juga, orang-orang yang juga terbaring sakit. Setidaknya, mereka mengajariku untuk bersyukur bahwa masih banyak yang lebih parah dari aku. Ini semua membuatku bisa menyukuri setiap ujian yang Allah beri.”

Beberapa saat kemudian setelah anakknya yang anggun dan elegan itu datang, dia meninggalkanku. Kembali ke bangsalnya. Meninggalkan banyak pelajaran untukku.
Read More

Balada Rumah Sakit (1)

Cerpen

“Lem…lem…lem… Lem, Bapak? Ibu? Lem, Pak, Buk?” Kusodorkan kotak berisi lem sepatu, lem triplek itu. Ada yang menolak dengan sopan. Ada yang cuek. Dan ada pula yang menawar, namun tak jadi membeli. Dari pagi hingga siang menjelang sore, aku berjualan lem dan berkeliling rumah sakit ini. Jika hari senin tiba, maka aku membawa anakku Ivan dan istriku menyertainya.

“Lem, dik.” Tawarku kepada segerombolan mahasiswa praktek di rumah sakit ini.
Mereka tersenyum dan menolak dengan sopan, “trima kasih Da.”
“Ambil saja Dik. Buat adik, gratis.”
“Hehe. Ga usah Da. Trima kasih.”
Lalu, salah satu di antara mereka bertanya, “Mana Ivan, Da?”
‘Wah…Ivan hari ini tak fisioterapi. Fisioterapinya hari senin.”
“hooo…iya. Salam buat Ivan ya Da.”
“Iyaa, makasih ya Dik.”

Aku berjalan, kembali menelusuri koridor rumah sakit. Ada banyak profesi yang terlibat di sini, mulai dari dokter, perawat, apoteker, ahli gizi, asisten apoteker, ahli fisoterapi, klining servis, penjual makanan kecil, staff, dan orang2 sakit dari berbagai pekerjaan. Aah, siapa lagi yah? Aku kurang begitu tahu.

Aku jadi teringat pada istriku, pada anakku yang mungkin sangat merindukanku di rumah. Istriku, perempuan lugu yang penurut. Dan anakku, Ivan yang dengan susah payah ia menyebut “ayah” dan menyambutku. Jika teringat akan anakku, maka, akupun teringat akan cita-cita sederhanaku.

Sesungguhnya aku iri melihat adik-adik itu. Meeka bisa bersekolah dengan tenang. Bisa mengikuti praktek di rumah sakit ini. Sesungguhnya, akupun sangat ingin Ivan demikian. Meski aku hanya tamat SMA dan bekerja menjual lem dari bangsal ke bangsal, tapi aku sangat ingin anakku nantinya menjadi dokter. Mungkin cita-citaku sederhana saja. Aku hanya ingin Ivan lebih baik dariku saat ini. Menjadi orang sukses.

Tapi, Allah berkehendak lain. Ivan ditakdirkan mengalami cacat mental. Di umurnya yang sudah 9 tahun dia baru bisa duduk. Ngomong pun satu-satu saja. Persis anak umur 2 tahun. Ia harus dikelonin kemana-mana. Setiap senin dia harus ikut fisioterapi di rumah sakit ini. sudah empat tahun lamanya ini berjalan. Entah esok bagaimana.

Pupuslah harapanku untuk menyekolahkannya tinggi-tinggi atau setidaknya lebih baik dariku. Bahkan ia tak bisa sekolah kecuali di SLB. Tapi, apa aku berhak untuk menyesali keputusan Allah ini? Memang sudah semestinya kujalani semua ini.

Hanya saja, setiap melihat mahasiswa praktek itu, aku jadi tercenung. Meskipun aku merasa bahagia karena mereka sangat peduli dengan Ivan, berusaha menghibur Ivan, tapii, tetap saja seperti ada harapan yang hilang.

Ah, tdak. Aku harus kuat. Harus kuat.
“Lem…lem…, lem Pak, lem buk?”
Kembali kujajakan jualanku.


Cerpen ini (hmm..bisa disebut cerpen gak yah? Hehe)…terinspirasi dari kisah nyata. Selalu saja, rumah sakit meninggalkan begitu banyak kisah pilu sekaligus pelajaran. Ah, rumah sakit memang tempat muhasabah yang indah.
Read More

Aku Ingin Menikah, Tapi...


Cerpen
(ini hanya kisah fiktif belaka loh yaaaah. Semoga bisa sama-sama diambil hikmahnya ajah...Okeh?? heee..)


Setiap kutanya tentang perihal menikah, ia selalu menjawab,
“Aku ingin menikah, tapi…” lalu dia tersenyum dengan kalimat menggantung seperti itu yang membuat rasa ingin tahuku semakin tinggi. Aku selalu tak pernah mendapatkan jawaban tanyaku. Hanya sebingkai senyum saja. Lagi-lagi… dan lagi-lagi seperti itu.

Aku dibuatnya tak habis pikir, sebenarnya apa sih yang dia tunggu. Bukankah dia sudah menyelesaikan S-1, sudah direstui orang tua, dan juga….setahuku dia juga sudah banyak membaca buku maupun mengikuti seminar mengenai pernikahan dan pendidikan anak. Kalau masalah yang terakhir, dia selalu mengatakan kepadaku bahwa memiliki ilmu itu sangat penting sebelum melaksanakan amalnya. Dan aku sangat sepakatdengan hal itu.

Pertanyaan itu menggantung. Begitu saja. Setelahnya, kami sibuk dengan urusan masing-masing sehingga kami jarang sekali berjumpa. Pertanyaan itu pun mengambang. Hanyut begitu saja.

***

Read More