Special Gift from Someone Special

Alhamdulillaah, bini'matiHi..., Allah memberikan kesempatan bagi kami untuk ziarah ke masjid Nabi, Madinah Al Munawwarah. Maka nikmat Allah mana lagikah yang aku dustakan.

Di tempat yang spesial ini, someone spesial memberikan spesial gift. Waaaaa.... senang banget, Alhamdulillaah.. tsumma Alhamdulillaah.... Jazakallaahu khair Zaujiy...

Pada kepo ga sih, apa Hadiahnya?
Hihihi... emang kamuuuh siapaah Fatheeeel, kudu di-kepo-in? :P
Heuheu...
Hadiahnya adalah Jam Tangan Al-Fajr, the best watch ever I met in the world... :)
Special Gift <3

Aku sedari dulu memang penggemar jam tangan (apalagi yang anti banting dan tahan air). Jam tangan sangan memudahkan sekali untuk mengetahui waktu dengan cepat, menurutku. Kalau mengandalkan HP,sering kali kadang keberadaannya entah di mana di saat kita butuh, dan spent more time sebab harus nyari-nyari dulu. Paling tidak, jikapun keberadaannya terdeteksi, mengeluarkan HP dari dalam HPO, Tas, saku, juga membutuhkan waktu kan yaaa.  Itulah sebabnya, aku sangat menyukai jam tangan. Dan oleh sebab itulah Abu Aafiya menghadiahkan aku jam tangan. Tau ajaaah, Cintaaah... Hihihi...

Sejak mengenal jam Al Fajr, rasanya aku tidak bisa lagi melirik jam merek lain seterkenal apapun itu. Mau Sw*tch keq, mau G*cci keq, mau C*sio keq, atau jam tangan dengan dengan harga di atas enam digit angka rupiah alias jutaan? I'm not interest, titik!
Read More

Let's Start ;)

Waahh dah lama bgt nda posting di blog. Soksok sibuk.. hihihi...
Mau cerita nih tentang... memulai sesuatu.
Ceritanya, ada acara "Semarak Muharam" yang diadakan oleh PKS DD Riyadh. Acara utamanya ya bazaar bagi ibu-ibu. Naah, si emak Aafiya ceritanya mau belajar untuk berdagang. Hihihi...
Selama ini, jika ada bazaar aku paling seneeeeng bgt... Tinggal dateng sana dateng sini, liat2 makanan indo, dan suka laper mata. Borong banyak-banyak. Astaghfirullah. Sekaraaang, mencoba untuk menjadi bagian dari orang yang berdiri di balik meja Bazar. :)
Read More

Semoga Syahid Wahai Tamu Allah

The Prophet صلى الله عليه وسلم:

'The one who dies beneath a collapsed building is a martyr '

Ahmad (23804), Abu Dawood (3111) and al-Nasaa’i (1846) from Jaabir ibn ‘Ateek (may Allah be pleased with him)

Classed as saheeh by al-Albaani in Saheeh Abi Dawood.

May Allah accept them. Aameen, best place to die.

Source:
https://english.alarabiya.net/en/News/middle-east/2015/09/11/Scores-killed-in-Makkah-crane-collapse.html

***
A man  is state of Ihram was brought to the Messenger of Allah ﷺ and he was thrown by his camel and has his neck broken and had died. He then said: ((Wash him with water and Sidr, shroud him in his two garments (that he was wearing for Ihram) but do not cover his head, for he will be raised on the Day of Resurrection reciting the Talbiyah.)) Agreed upon
Muslim 1206 a
Bukhari 1265

****

Good message at the right time. Wallahi, I wish to be among the dead there. As Rasoolullah said that if you wish to have your death in a sacred place wish that you die in Madhina. Imagine the status of the dead..
1) they are hujjaj,
2) some of them are in ihraam,
4) they are in Haram (the house of Allah and the most sacred place on the universe)
5) they died on a Friday
6) they are reciting the tarbiyah
7) some of them are performing tawaaf
Allahu akbar..Allahu akbar...can anyone ask for a better death....Subhanallah....May Allah swt grant us a death that will be earn is the glad tidings when our soul reaches our CREATOR..Aameen Ya rabbul aalameen

*****

Grup-grup wa di beberapa komunitas di Riyadh sedang dihebohkan dg berita duka yang berasal dari Makkah. Sebagaimana diketahui saat ini sedang ada renovasi masjidil haraam dan mataf dikelilingi oleh alat-alat berat. Adanya badai pasir yang dahsyat menyebabkan alat berat sekelas crane jatuh dan menimpa jamaah. Ada puluhan bahkan ratusan korbannya...

Ya Allah... semoga Allah mengkaruniakan mereka syahid... sebagaimana hadits di atas. Aamiin yaa Rabb...

******

Ah...
Kematian itu tak ada notifikasi sebelumnya tentang kapan dan di mana...
Beruntunglah orang-orang yang kembali kepada-Nya dalam keadaan sebaik-baiknya--husnul khatimah..

Sungguh... ketika tawaf... hati sedang tunduk setunduk-tunduknya di hadapan Rabb, Allah... dan di saat itulah mereka kembali kepada-Nya... betapa beruntungnya mereka...

*******

Semoga akhir kehidupan kita adalah sebaik-baik penutup...

Sungguh... untuk dapat pelayanan terbaik di hotel berkelas saja, ada harga yang harus dibayar.

Lantas, bagaimana mungkin aku berharap surga dengan amalan yang pas-pasan? Surga jauuuuhh lebih mahal dari itu, wahai diriku..

Astaghfirullaah...

Read More

Berani 'Salah'

Alhamdulillaah aku telah beberapa hari mengikuti sekolah di Daar Adh Dhikr. In syaa Allah pekan depan ada i'tibar alias postest alias ulangan. Nah setelah ulangan in syaa Allah libur panjang hajj. Horee.. #ehh.. :D :P

Ini hanya postingan singkat... sekedar refleksi saja. Beberapa hari mengikuti kelas, ada perbadaan signifikan antara pendidikan yang aku pernah rasakan di indonesia dengan orang-orang dari luar indonesia. Secara statistik p < 0,005 pake analisa Mc. Nemar (ihh apaan siih... ahahaha)... becandaaa..

Perbedaan signifikan itu adalah tentang "berani salah".
Dulu semenjak jaman SD (entah itu di SD-ku saja), ketika guru berkata, "hayo anak-anak siapa yang mau maju kedepan (atau siapa yang bisa menjawab)...silahkan ngacung" sang guru pun mengajukan pertanyaan. Rata-rata murid-murid pada diam dan malu-malu untuk mengacungkan tangan. Surut sebelum berjuang. Kenapa?
Karena kita lebih sering membudayakan "cimeeh" alias cemooh-an ketika jawaban kita salah. Kita tidak berani maju ke depan atau mengacungkan jari menjawab pertanyaan karena kita TIDAK "BERANI SALAH". Paradigma yang terbentuk adalah "nanti kalau aku salah jawab, diketawain."

Kadang bukan hanya di kalangan siswa, sebagian oknum pahlawan tanpa tanda jasa pun (catat: hanya sebagian) juga ikut menambah daftar panjang keterpurukan ini dengan kata-kata semisal, "kamu itu... masa' begini aja ga bisa." Murid dituntut untuk perfect dan benar. Ga boleh salah. Padahal, kalo udah benar dan pintar... ga perlu sekolah lagi kaan.. Justru dari salah lah kita lebih banyak belajar.

Nah itulah bedanya. Teman-teman sekelasku, aktif dan berebutan unjuk jari ketika sang guru bertanya atau meminta sesuatu misal hiwar atau percakapan..

Yaa.. semacam revolusi lah bagi diriku sendiri terutama terlebih dahulu agar berani salah.. :)

Read More

Hari Pertama Sekolah

Alhamdulillaah... di akhir agustus kemarin kami sudah kembali berada di Riyadh setelah sekitar 2 bulan pulang ke kampung halaman (khusus Abu Aafiya 3 minggu hehe...). Wara-wiri dalam 3 minggu terakhir, menempuh 11 daerah... (Padang-Muaro Labuah-Sangir-Sungai Pua-Bukittinggi-Padangpanjang-Jakarta-Depok-Bandung-Majalaya-Garut). Aafiya sempat demam, begitu pula emak dan bapaknya. Mungkin karena kecapean bolak-balik sana sini... menempuh perjalanan ke berbagai daerah tersebut. Alhamdulillaah 'ala kulli haal, Aafiya over all tetap kuat... :)

Ketika balik ke Riyadh, pesawat delay sampai 3x... Menurut jadwalnya, kami landing sekitar jam 8.15 pm waktu Saudi. Ternyata real nya baru mendarat sekitar jam 3-an dini hari jam Riyadh...
Aku dapat messej bahwasannya sekolah kami (Daar Adh-Dhikr) memulai term ini di hari selasa (tanggal 2 September 2015). Waahh... baru 3 hari di Riyadh udah langsung mulai sekolaah. Aku masi jetlag. Aafiya apalagi. Masi jetlag bangeeet... Tapi Alhamdulillaah 'ala kulli haal.. baliknya sebelum sekolah dimulai.

Read More

Long Distance Relationship

Long Distance Relationship alias hubungan jarak jauh (selanjutnya kita singkat LDR ajah kali yaa) memang bukan pilihan yang mudah... Apalagi bagi sepasang suami istri. Tapi ada kalanya, LDR menjadi satu-satunya pilihan terbaik. Ada kondisi di mana memang mengharuskan untuk LDR. Ada yang seminggu sekali berjumpa. Sebulan sekali. Setiap 6 bulan. Dan bahkan ada yang sampai hitungan tahun!

"Saya 6 tahun menikah. Tapi 75% dari pernikahan itu adalah LDR."

"Kami pernah 6 tahun tidak berjumpa setelah nikah. Suami ga pulang. Dan saya menghabiskan waktu dengan kesibukan yang padat."

Dua pernyataan tersebut aku dengar langsung dari yang bersangkutan (dengan redaksional berbeda).

"Dulu, kala belum ada skype dan video call lainnya... kami LDR sekian tahun hanya dengan mengandalkan telpon saja."

"Di negara kami yang masih terbelakang, saya berkomunikasi dengan istri hanya lewat surat. Itupun suratnya baru sampai 1 bulan kemudian."

Dua pernyataan terakhir adalah cerita yang didengar suami dari teman-temannya.

Aahh.. pasti beraaat banget. Aku yang LDR cuma 7 bulan saja sebelum berangkat ke Riyadh (dan itupun sebagian waktu LDR nya diisi dengan kesibukan mengejar target tesis yang supeeerr extra menyita waktu) sudah terasa beraaaat... Padahal juga sudah didukung dengan teknologi video call (dan kami video call hampir tiap hari), tetap saja beraaaat rasanya. Apatah lagi yang LDR bertahun-tahun dan tidak didukung dengan teknologi yang mendekatkan yang jauh semisal video call. Duuhh.. yang pasti... berat bangeeett...

Ada yang lebih nyesek lagi. Ada salah seorang teman dari rekan kerja Abu Aafiya yang bercerita memilukan. Karena LDR, si anak beranggapan bapaknya ada di laptop. Ceritanya mereka tiap hari video call... Biar ada komunikasi antara anak dan bapak mungkin maksudnya. Suatu ketika si bapak pulang ke kampung halaman. Si anak tak mengenali bapaknya dan bilang, "bapakku yg ada di laptop bukan yg ini... " ahhh pasti sedih bangeeett...

Memang tak mudah untuk menjalani LDR. Aku... jika memang masi ada pilihan untuk tidak LDR, aku pasti memilih untuk tidak LDR. LDR adalah pilihan terakhir yang akan dipilih--di saat tak ada pilihan lain--.

Tapiii...
LDR akan membuat kita mengerti... akan berartinya sebuah rasa rindu. Dan akan membuat kita lebih menghargai saat-saar kebersamaan... :)
#Eaaaaaa
Salah satu hikmah LDR... :D

*****

Yang LDR lagiii... meski sebentar... tapi berasa beraaaat... separuh jiwaku masi di Riyadh.. ;)

Read More

Nasihat Klise "Don't Judge the Book by the Cover"

"Don't judge the book by the cover..."

Nasihat ini terdengar begitu klise. Jangan nilai buku dari covernya, jangan nilai orang dari penampilannya.
Klise, bukan?
Sederhana, bukan?
Tapi... pada penatalaksanaannya; tak semudah pengucapannya.

Dulu sebelum berangkat ke Riyadh, aku dikira TKW yang akan bekerja di sektor domestik. Pun saat memenuhi persyaratannya. Sempat diperlakukan semena-mena dan dipandang "rendah". Tak mengapa. Bukan masalah bagiku. Hehe
Tapi hal yang sangat berharga adalah, aku jadi mengerti ternyata beginilah nasib orang-orang yang tidak seberuntung kita, yang memilih untuk bekerja di sektor domestik karena memang tidak punya pilihan lain. Mestinya kita yang sempat mengenyam pendidikan yang lebih (bukan berarti lebih baik dan lebih tinggi!) Lebih banyak bersyukur dan juga sekaligus ujian; apakah ilmu yang didapat sudah memberi kemanfaatan bagi sesama.

Nah... di apartemen kami kan multinasional tuh yah... Biasanya Abu Aafiya "mengenalkan" beberapa penghuni dari mobilnya. Misal, "bapak yang punya mobil ini adalah orang saudi asli. Orangnya baik dan ramah." "Yang punya mobil ini adalah dokter, sangat taat beribadah dan hampir selalu datang awal untuk shalat berjama'ah. Ma syaa Allah." Begitulah cara kami "mengenali" tetangga. Bukan kenalan secara langsung (khusus perempuan). Hehe.. Beda sosioculture tentunya. Kalau sesama laki-laki sih seperti biasa, kenalan, salaman, ngobrol singkat. Tapi kalau wanita, nyaris tertutup dan tidak saling berkenalan dengan siapapun. Pun mengenakan niqob kan yah. Hehe...

Nah suatu ketika, Abu Aafiya bercerita serius tentang salah satu tetangga kami. Pada mulanya, kata Abu Aafiya, si tetangga terlihat sangat sederhana dan biasa saja. Penampilannya sama seperti teman-temannya yang berasal dari Bangladesh pada umumnya. Tapi, di luar dugaan... ternyata dia adalah seorang dokter spesialis anak yang bekerja di rumah sakit milik kerajaan khususnya bidang pertahanan. Sudah menyelesaikan pendidikan doktor (S3) di Jepang.

Setelah sering ngobrol, bareng ke masjid, dan interaksi lainnya, Abu Aafiya cukup dekat dengan sang tetangga ini. Setelah lebaran nanti in syaa Allah mereka pindah ke Jepang se keluarga. Baru kali ini Abu Aafiya terlihat sedikit merasa kehilangan. Dengan sosioculture yang sangat menjaga privacy dan kehidupan pertetanggaan yang tidak begitu intens, berganti tetangga adalah hal yang lumrah dan tak ada rasa kehilangan. Toh akan berganti dengan tetangga baru lagi. Hehe... Namun kali ini kata Abu Aafiya, ada sedikit kesedihan ketika mendengar mereka akan final exit.

Hmm...
Benar yaah... don't judge book by the cover. Mudah sekali mengucapkannya. Tapi pada pelaksanaannya; tak semudah mengucapkannya!

Jadi... mari belajar berprasangka baik terhadap siapapun.. :)

****

Suatu ketika kami berdiskusi tentang; 'seberapa penting mengedepankan penampilan ketika bepergian.' Penampilan di sini bukan berarti tabarruj.. penampilan rapih dan necis lebih tepat konteksnya.

"Penting sih. Tapii... not too mandatory." Ini jawaban Abu Aafiya. Sering kali kalo para engineer itu ngantor cuma pake jeans dan kaos oblong ajah. Hihihi... Tapi aku suka euy. :P

Kadang (atau sering bahkan) aku juga terlalu easy going dan cuek soal penampilan. Apalagi di negeri Riyadh yang semua terbungkus Abaya hitam. Jadii, cuek ajah daah mau pakek apapun sebelum 'dibungkus' Abaya. Hihihi...
Aku menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwasannya kecuekan itu sangat mengundang perhatian para madam-madam yang sedang mencari ART alias asisten rumah tangga dan melakukan penawaran untuk menjadi ART atau sekurang-kurangnya; menananyakan 'ente punya link kaga nyariin ART buat ane'. Hehe...

Tapi walaubagaimana pun, berpenampilan baik (bukan dalam hal tabarruj) tentu lebih baik dari pada berpenampilan cuek bin amburadul. Setidaknya, kita menjaga orang lain dari prasangka judge book by the cover.
Setuju?

Yang ga setuju bole komen koq.. :P

Read More