Sahabat Kecilku


Sahabat kecil. Heee…di bangsal anak ini, aku punya seorang sahabat kecil yang saaaaaaangaaat lucu dan menggemaskan. Kalo kecek urang tuo-tuo, “ndeeeh, bijaknyo anak ko laaaai.” Hehe.

Dari awal, aku sudah jatuh cinta pada anak itu. Pada keceriaannya. Pada bahasa-bahasanya. Pada cerita-ceritanya. Pada tawanya.
Aku memanggilnya “Cica” dan dia memanggilku “Kak Athel.” Hehe.

Selalu saja ada yang dipamerkannya padaku, mulai dari kaca mata hitamnya yang baru. Sekaleng fantanya. Buku-bukunya. Mainannya. Hingga celotehnya yang bikin gemes, “kak Athel…kak Athel, nanti kalo sholatnya di sinii ajaaaaaah (dia menunjuk ruang dokter), trus wushu’nya di sanaaa (tunjuknya pada toilet).” Aku bener2 gemessss abiiis sama itu anak. Di lain kesempatan, dia berciloteh, “kak, setiap minggu aku ke Padang bareng ayah.” Atau, “Nanti aku beli baju baru di aur sama bunda.”

Ketika kutanya cita-citanya, dengan segera dia menjawab, “aku ingin jadi polisi!”. Wah…wah….polisi! “Ngga’ jadi dokter ajah? Kan Cica udah sering dinas malam di rumah sakit?” godaku.
“Ngga’ mau. Pokoknya mau jadi polisi!”

Nah…nah…, tadi aku cukup dikejutkan dengan ceritanya yang lain.
“Kak…, aku sudah punya pacar looh.”
“Haaaa?? Masa’ iya siiiih??”
Howalaaa…., empat taon begini udah punya pacar segalaaaa? Gdubrak!
“Iya! Pacarku ada tiga kak!”
Waouwwww….!! Tigaaaaa??
Aku semakin kaget ajah.
“Siapa nama pacarnya Cica?” tanyaku, masih setengah syok.
“Ada bang beben, Fauzan dan Bang Farhan.” Ceritanya dengan bangga.
Masya Allah, kecil-kecil…udah pasang tiga! Gileeeee, bo!
“Udah putus lima orang.”katanya kemudian.
Haaaa??? Udah pake putus segalaaaa??? Waouw! Lima orang lagi!
Huwaaaa….syok theraphy!
“Trus, yang lima itu siapa2 ajah namanya?”
“Udah lupa tuuh. Abiiis, dia ga mau sama Cica.”

Huwaaaaa….
Syok banget diriku!

Hanya saja, kemudian aku jadi saaangaaat tercenung mendengar cerita si kecil Cica. Bayangkan, di usianya yang masih sangat-sangat hijau (lho, hijau??heee…), yang masih 4 atau 4,5 tahun sudah ngerti masalah “pacar”, udah ngerti masalah “putus” segala. Sungguh-sungguh aneh sekali dunia.

Sebenarnya bukan hanya Cica, tapi jugah ada si kecil yang lain, yang kebetulan menjadi pasienku. Namanya Azizah. Tak jauh beda dengan Cica, Azizah juga anak yang saaangaat ceria daaan hmm..”bijak”. Hanya saja, karena Azizahnya lagi sakit, jadinya dia ga terlalu banyak omong. Dari cerita orang tuanya, aku bisa simpulkan betapa dua anak itu memiliki karakter yang ga beda jauh. Bahkan lebih parah lagi anak yang satu ini, banyak perihal orang dewasa yang sudah dia tahu. Waah…, paraaah!

Si ibunya mengeluhkan,
“anak-anak sekarang bikin kita heran. Dari mana mereka tau sampai segitunya?
Pengaruh TV benar-benarlah yaah.”

Iya! Sepakat!
Anak-anak sekarang “ilmu”nya memang udah sangat canggih yaaah? Sudah “tinggi” banget!

Hmm…lalu apa kesimpulannya?
Yaph! Betul..betul…betul…!
Pendidikan anak!
Pentingnya penanaman akidah, moral dan akhlak sejak dini. Mendidik anak di tengah pengaruh media yang demikian dahsyatnya memang susah-susah gampang. Hmm…, makanya penting bagi ibu-ibu dan jugah calon ibu-ibu untuk memperhatikan hal ini. Perlu adanya perhatian yang khusus. Agar, kelak, generasi-generasi selanjutnya adalah mereka yang menjawab tantangan peradaban!

Belakangan aku juga sering menemui dan mencoba bercengkrama adik-adik kecil yang masya Allah….memiliki keterbelakangan mental. Mencoba untuk memahami bahasa mereka. (Waaah…, sungguh benar-benar harus sabar seorang ibu ituuu…). Di umurnya yang sudah mendekati 7,8 atau 9 tahun masih belum bisa ngapa-ngapain. Baru bisa ngomong. Baru bisa duduk. Memang, tak ada yang menginginkan hal ini terjadi. Namun, bukan pula aku mengatakan untuk menyalahkan takdir. Hanya saja, mari coba ambil hikmahnya. Ketika Allah amanahkan anak-anak yang manis-manis, yang cerdas (yang bahkan di umurnya yang 4 tahun sudah mengerti banyak hal), maka sudah semestinya kita untuk melaksanakan amanah yang Allah berikan itu, yang mungkin amanah anak-anak yang cerdas itu adalah sesuatu yang diinginkan oleh ibu-ibu yang anak-anak mereka memiliki keterbelakangan mental. Mereka, kertas-kartas putih yang polos, yang siap untuk dihiasi dengan model lukisan apa. Itu sangat tergantung dari lingkungannya, terutama keluarganya, dan yang lebih spesifiknya, ibu bapaknya. Sungguh, bersyukurlah ketika Allah anugrahkan anak-anak yang cerdas yang normal. Maka, sebagai salah satu bentuk rasa syukur itu adalah dengan mendidik mereka dengan pendidikan yang sebaik-baiknya.

Heee, macam udah pengalaman sahaaajaaa aku niiih. Hihi. Gak laaah. Ga’ pengalaman. Aku hanya seorang pengamat dan pencinta anak-anak saaahhaaajaaa koq. Hihi. Tapiii satu hal yang kemudian dapat kuambil plajarannya, bahwa (Kata orang pinter, heee…) untuk mencerdaskan anaknya, maka yang mesti dicerdasin itu adalah ibunya dulu. Logikanya begini, kalo seseorang bersekolah di sekolah yang berkualitas, maka out put yang dihasilkan pun berkualitas kan yah? Sebaliknya, kalo sekolahnya ancur-ancuran, gurunya sering ga masuk, pelanggaran dimana-mana, maka anak yang cerdas sekalipun bisa bloon di sekolah itu. Makanya, sekarang iniii, orang-orang berlomba-lomba untuk bisa masuk sekolah unggul, biar bisa dihasilkan anak-anak yang berkualitas. Naah looh, seorang ibu juga madrasah kan yaah? Madrasah yang pertama kali malah! Makanya, membentuk madrasah yang unggul itu sangat penting. Spakat?? Dan aku sepertinya massssiiiiih sangat jauhhh dari itu. Heeee… Tapi tak apalah, toh kita masih sama-sama belajar, tho? Semoga menjadi pemicu semangat untuk lebih belajar…belajar…dan belajar, insya Allah. Semangaaat!

0 Comment:

Post a Comment

Feel free to accept your comment. Spam comment will be deleted and blocked