Ikan Tepung Crispy

Ceritanya pas sohib sayah... neng Rahma Ummu Fatih nge-share tentang shortening, sayah kalap ketika berada di Hypermart Panda, kepengen beli juga meskipun maksud dan tujuan penggunaannya belumlah sayah rencanakan... -_-"

Adeuuhh karena buru-buru pulang abis ngedate ama Suami di DQ (Dairy Queen) sayah lupa lihat expiredate si shortening. Eh ternyata tinggal sebulan lagi. Adeuuhh harus segera digunakan dong yaah, sementara aku ga tau kegunaannya selain untuk pastry dan bikin secangkir coklat panas yang ditetesi shortening oil sehingga rasanya sungguh nikmat. Tapi, musim dingin sudah berlalu. Secangkir coklat panas, sungguh lebih nikmat di suasana musim dingin. Sedangkan pastry, aku belum niat bikin dalam waktu dekat. Hiks...

Akhirnya aku putuskan untuk googling adjah, apa sih kegunaan si shortening. Ohh ternyata, untuk bikin goreng yang crispy emang lebih nyummy kalo pake shortening oil. Akhirnya aku putusnya untuk bikin ayam crispy, lalu ikan tepung crispy. Hasilnya, alhamdulillaah tidak mengecewakan dan jauh lebih bagus (di segi penampakan hehe) di banding menggunakan minyak biasa. Alhamdulillaah... Yang penting ga mubadzir ajah yaa... :)

Ikan Crispy ala aku :
ikan fillet
garam
ketumbar
merica
bawang putih bubuk
bawang merah putih diiris/dihaluskan
tepung terigu
shortening oil
daun jeruk
minyak ikan/saus ikan
telur 1 butir
susu cair
(takar sendiri yooo... soalnya aku ga ngukur takarannya dan ga googling resep juga. karang sendiriii... hehehe :D)

cara :
ikan fillet di potong kecil-kecil, kira-kira 2x2 cm, lalu direndam dengan air, ketumbar, bawang merah dan putih iris/uleg, daun jeruk, minyak ikan/saus ikan,garam selama 1 jam, lalu direbus sampai matang dan air mulai mengering. Lalu telur + susu dikocok hingga merata (bahan perekat). Tepung terigu + merica + bawang putih bubuk + garam diaduk jadi satu (bahan pelapis). Gulingkan ikan fillet yang sudah direbus ke bahan perekat lalu ke bahan pelapis. Lalu goreng dengan menggunakan shortening oil dengan api sedang.
Ikan tepung crispy
Read More

Syahwat Al Qalam

Seketika masa SMA dulu (kira-kira 10 tahun silam, awal tahun 2004), aku mendengarkan sebuah tausyiah singkat dari arah masjid Misbahul Ulum (Masjid SMA N 1 Padangpanjang) dari salah seorang ustadz di asrama. Aku waktu itu tidak berada di Masjid, melainkan di Asrama Putri. Tapi materi tausyiah itu sangatlah jelas terdengar olehku (asrama Putri berdekatan dengan Masjid). Nah, ceritanya tentang Syahwat Al Qalam, alias kepingin ngomooong teruuss adjaah.. :(

Materi itu kemudian membuat aku tergugu, dan menuliskannya seketika itu di Diary (diary ke-3 dari total 15 diary). Aku tersadar saat itu bahwa syahwatul qolam sangatlah berbahaya, bahkan dengan maksud bercanda sekalipun. Mungkin aku rada-rada sanguinis yang umumnya "senang ngobrol" dan kadang suka mendominasi pembicaraan dan (?) mendramatisir suasana. *Alibi*.

Nah, kadang, aku sebagai orang yang ekspressif spontaneous (maksudnya, ketika ada sesuatu yang mengagetkan, membahagiakan, menyedihkan, memilukan, dan segenap kata kerja rasa lainnya, maka aku seketika itu juga, on the spot, mengekspresikan "kata kerja rasa" apa yang sedang terlintas dalam pikiran tanpa pikir-pikir dulu). Dan terkadang, ketika asyik bercuap-cuip begitu, atau kadang saking sangat bersemangatnya terhadap sesuatu, aku tidak menyadari, mungkin ada yang terlukai perasaannya. Ya, itu sering kali tidak aku sadari. Hiks...

Entahlah... Kadang aku udah bertekad setekad-tekadnya untuk mengontrol dan tidak spontaneous, tapi sering tidak berhasil. Hiks. Mungkin aku mesti me-recall kembali catatan sepuluh tahun silam, tentang bagaimana memenej syahwat al qolam; agar perkataan yang PASTI akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah itu adalah benar-benar perkataan yang perlu, penting dan benar untuk diutarakan. Ini bukan berarti kaku dan diam. Tapi, bagaimana agar perkataan itu benar-benar yang bermanfaat dan bukan sesuatu yang--ternyata secara tak sadar--menyakiti hati orang lain. Bagaimana agar perkataan yang keluar dari mulut, benar-benar telah melewati filter yang berlapis-lapis, dipikir dengan sejernih-jernihnya pikiran agar kotoran tidak ikut membersamainya. Sebab, sekali kita menyakiti seseorang, apalagi orang-orang yang dekat dengan kita, maka seketika itu pula, kita meninggalkan bekas luka, meski pun mereka--orang-orang yang berhati mulia itu--bersedia memaafkan. Tetap saja ada bekasnya meskipun si duri yang tertancap telah tercerabut. Ini perkara yang sungguh berat bagiku. Semoga, step by step, bisa berubah ke arah yang lebih baik.

Oh iyaa, aku mohon maaf yaa untuk siapapun yang tidak sengaja tersakiti oleh perkataanku. =)
Read More

Bakso Terlezat Sedunia

"Uda, pengeeennn buangeettt bakso." Huaa aku lagi pengen2 nya makan baksoo... Kuah bakso yg slrruupphh rasanya terbayang-bayang di pelupuk mata.
"Hemmm bakso yaa? Adanya cuma di... " My luvely hubby menyebutkan sebuah nama warung Indonesia yang ada Riyadh. "Tapi di sana ga enak aromanya. Lagi pengen banget yaa?" Kata suamiku.
Aku mengangguk. "Tapi kalo ga malam ini, juga nda papa koq, Uda." Betapa rempongnya kalo mau cari bakso di sini. Ga tega ngerepotin suami yg pasti udah cape' banget seharian di kantor. Huhu... Tidak seperti di Indonesia yg ketika kepengen, langsung ajaaah ngacir ke warung bakso di sebelah, di sini makanan semacam bakso, sate, soto begitu langka adanya... huaaa...

"Ya udah, sini, Uda bikinin bakso." Kata suamiku.
"Hah?? Uda seriuusss?" Aku berseru girang.
"Iyaa... serius..."
Read More

Musim Penghujan Dua Tahun Silam

Musim penghujan dua tahun silam di Kota Depok yang penuh kenangan.

Tidaklah aku lupa, kala itu, di musim penghujan, Desember hingga Januari dua tahun silam. Sebab letak kostanku yang memang tidak terlalu strategis untuk musim penghujan--tapi sangat strategis untuk semua musim oleh karena harganya paling bersahabat --maka melewati tanah kuning yang becek (yang bahkan ojek pun ogah lewat sana oleh karena banyak kejadian ojek-ojek yang terpeleset) adalah rutinitas yang penuh kenangan, sekaligus penuh perjuangan. Aku tidak punya pilihan lain selain memilih jalan ini, atau kalau tidak aku harus membayar mahal ojek, atau membayar mahal kaki yang pegal akibat jalan yang memutar, untuk mengindari becek dan ga ada ojek yang mau lewat sana. Ini adalah satu-satunya jalan terdekat untuk menuju kampus. Apalagi itu musim ujian.

Beberapa ojek yang lewat, menawarkan dagangan kutolak mentah-mentah. Harga ojek cukup mahal. Apalagi di musim penghujan. Sebab--sekali lagi--ojek-ojek itu tak mau melewati jalan pintas itu, karena sudah berpuluh kali kejadian ojek tergelincir di sana. Jika pun pada akhirnya harus memilih naik ojek, maka ojeknya akan memilih jalan 2 kali lipat lebih panjang, tapi harganya 3x lipat lebih mahal. Kala itu (belum bbm naik) harga ojeknya jika harus memutari jalanan selingkar kampus (menghindari becek) seharga 15ribu. Sangat mahal untuk harga mahasiswa sepertiku yang sering bokek di penghujung bulan. Hehehe...

Read More

Cemburu

henpon jadul
Sejak pertama kali punya henpon hingga akhir tahun 2013, genre henpon yang aku punya masih tak jauh beranjak, meskipun pertumbuhan dan perkembangan dunia perhenponan begitu pesat dan cepatnya. Tahun 2004, mulai punya henpon (tapi bukan aku yang pake) sebab perlu komunikasi sebab adikku harus dirawat di daerah yang beda kabupaten dengan kampungku yang jauuh terpelosok di mana peralatan medisnya kurang lengkap. Henpon kala itu yang beredar masihlah hanpon dengan monoring, bisa dipake buat nelpon, sms, main games "snakes" (hehe, mungkin yang berada satu generasi dengan aku masi ingat dengan games ini), dan dua lagi, alarm dan kalkulator.

Hingga dalam jangka 5 tahun saja, perkembangan dunia henpon begitu dahsyatnya! Dengan kamera yang canggih, dilengkapi fasilitas internet, serasa dunia dalam genggaman. Games snakes mulai ditinggalkan. Henpon mulai multifungsi, bukan hanya buat SMS dan telpon, melainkan buat fesbukan, twitteran, yutub-an, dan sederet sosmed lainnya.
Read More

Inspirasi Bolu Sepotong Bolu

Bolu Tapai Katan Itam ala Fathel ;)
Hehe, ini adalah sebuah kisah unik yang setidaknya menginspirasi diriku sendiri. Tentang kisah perjalanan si tapai katan hitam (tape ketan item). Suatu ketika, demi melihat ada setengah kilogram beras ketan hitam di lemari bahan makanan, terbitlah keinginan untuk membuat tape ketan hitam. Pasalnya, aku tidak tahu caranya. Akhirnya dengan "mengarang-ngarang sendiri", si ketan hitam aku taburi ragi. Keesokan harinya, ternyata tidak ada perubahan wujud si ketan hitam. "Lho, koq ga jadi tape ketan item?" aku membatin.

Akhirnya, aku memutuskan untuk search dan berselancar di internet. OOOOOooooohh, ternyata bikin tape ketan hitam tidak sesederhana karanganku. Mestilah di rendam semalaman. Sehabis itu dikukus. Sehabis itu ditaburi ragi, barulah kemudian didiamkan 3 HARI!!! At totally, setidaknya butuh 4 hari untuk bikin tape ketan item.

Read More

Pengeboman H2S

Kali ini aku mau cerita, tapi agak sedikit jorok. Maaf yaa Bloggie. Sebenarnya aku negrasa ga ahsan cerita beginian. Tapi yasudahlah, aku memang pengen nulisin. Eh, bagi kamu yang lagi gangguan peristaltik kerongkongan, hamil trimester pertama, nausea vomiting, apalagi hiperemesis gravidarum ataupun pasca chemotheraphy, sebaiknya urungkan niatmu membaca ini. Sebab, bisa saja memperburuk prognosis nausea vomiting kamu. Hahaha...

Ini adalah kisah nyata, dengan penyamaran identitas pelaku, tempat dan waktunya. Di sebuah gedung besaaar, tinggallah segerombol anak muda. Setelah berbulan-bulan hidup bersama, mulai muncul kebiasaan aneh. Bagi kebanyakan masyarakat umum, (maaf) kentut dengan amplitudo suara yang keras di hadapan begitu banyak orang lain adalah suatu bentuk ketidaksopanan. (Kalau di rumah sendiri, di keluarga sendiri, mungkin masih gak papa. Dalam tulisan ini konteksnya, di sebuah gedung yang dihuni oleh puluhan orang, semisal asrama tanpa sekat antar kamarnya. Hehe). Nah, di sinilah keanehan itu bermula. Satu dua orang pelaku "bom zat kimia H2S" itu masih dianggap aneh oleh semua penghuni gedung. Tapi, lama-lama, ada semacam kompetisi tak tertulis, bahwa si "pengebom zat kimia H2S" yang paling keras bunyinya, ia adalah orang yang hebat danpatut dibanggakan. Dialah sang pemenang.

Akhirnya, apa yang terjadi?
Read More

Salah Satu Hal Menakjubkan di Saudi

Hee...
Ini adalah bulan terparah soal Blogging....
Dulu, sebulan bisa ampe 40-an postingan. Sekarang? Deuuhh... Bukan salah siapa-siapa sih. Salah aku sendiri yang udah nggak disiplin lagi. Tapi, tak apa lah... Walaupun sebenarnya aku juga ga boleh terlalu mentolerir diri... Hihihi... Alasyaaaannn...

Salah satu hal yang "menakjubkan" di Saudi adalah jam sholat. Di post sebelumnya aku sudah pernah bercerita, suatu ketika kita sedang berada di Caref*ur. Pas jam shalat, segera "lapak"nya ditutup dan pada berangkat sholat. Bahkan yang jual bubble drink di sebelah tempat aku duduk juga meninggalkan dagangannya begitu saja dan berangkat sholat.
Read More

Cooking Failed

Adeuuhh Bolggiee ehh Bloggiiee... udah lama pisan ndak posting nih yaa? Terakhir kapan yaa? Adeuuh, mesti liat dulu nih blog arsip, baru ingat. Huhu... Maaf yaa Bloggiee...

Seperti biasa, sebenarnya aku pengen nulisin sesuatu niih. Tapi, kadang keinginin tak bersua kesempatan. Artinya, ingin nulis, tapi nda sempat. Atau, kadang, kesempatan tak bersua keinginan. Artinya, kesempatan ada, tapi keinginan yg lagi menguap. Hehe... Walhasil tak jadi-jadilah hasilnya :D.
Ini (tulisan ini) adalah sisa-sisa kerak ide yang terperangkap dalam blog tapi belum tersentuh. Heheu....

Sedari dulu, semasa aku masih di sekolah dasar, aku salah mengartikan sbuah kata gagal. Gagal menurut pemikiran kecilku adalah : TIDAK MENDAPAT JUARA KELAS. Hehe, dangkal yaa?? Seiring berjalannya waktu, definisi gagal pun berubah. Nyatanya, menginjak bangku SMA, aku tidak lagi pernah berprediket juara kelas. Kemudian, defini gagal mengalami diferensiasi makna sebagaimana makna klasik yang sering digaungkan banyak orang, bahwasannya, gagal adalah ketika belum bisa bangkit dari keterpurukkan. Kenyataannya, definisi gagal yang begitu filosofis ini tidak semanis implementasinya dalam hidupku. Artinya, tidak selalu aku bisa mengatasi keterpurukkan dengan anggun. Ya, berarti aku gagal lagi dong? Hehehe... Tapi setidaknya, aku sudah mulai berdamai dengan berbagai macam kekalahan, baik dalam kompetisi nyata, maupun kompetisi dalam kehidupan.
Read More